Relakah berkorban mengubur semua lembar kenangan
Diseret arus gelombang yang mengacau
Gurauan pelik seperti potongan sampah yang terbuang
Raga sembiluan yang meneteskan darah kematian
Relakah berkorban menguburnya?
Bila rintihan lagu terdengar bersenandung
Tiada indahnya tanpa adanya titik harapan
Pujangga pernah berkata bahwa cinta itu menguatkan hati, sekejap aku percaya
Karenanya cinta dapat menguatkan dan menghidupkan pengharapan
Entah benar atau tidak, pengharapanmu sempat redup....
Namun, kian detik berjalan
Pengharapan terlihat semakin seperti senja yang perlahan tertelan
Menghilang dan kian entah kemana
Ku merenung dan meluruskan niat
Mengistiqomahkan nalar dan pengharapanku
Dan tegak berdiri untuk menuntaskan tugasku untuk menghidupkan kembali
Menghidupkan kembali lilin pengharapan aku dan kamu
Engkau kerap menerangi dalam gelapku
Begitupun aku yang perlu bergegas menyingsingkan lengannya untuk menyalakan pengharapanku
Gelap dan terang
Bila diperkenankan memilih....
Aku lebih memilih gelap karena aku pantas mendapatkannya
Yang senantiasa hadir hanya sunyi dan sepi serta nurani yang menunggu engkau hadir untuk menyinari
Dan khayalmu membuatku lebih terang dalam mengarungi kehidupan yang semakin memilukan.
Engkau datang dengan terang benderang
Menemukanku dari gelap, sunyi dan sepi
Melihatku berdiri dengan pijakan yang tak lagi mampu tegak
Engkau hadir dengan menyambut tanganku yang lemah
Matamu kian menghidupkan
Kerap ku bermimpi tentang khayal mu
Benturan tirani memaksaku untuk memilih jalan mungkin terjal
Pilihannya hanya ada dua
Bangun dan bergegas mewujudkan mimpi yang indah ini, atau
Kembali tertidur untuk menikmati kebersamaan denganmu dalam khayalan imajiner
Bagi jalan pertama, perlu kusadari bahwa ikrar ini bukan menjanjikan kebahagiaan
Namun, ikrar ini terucap untuk saling bertopang langkah membangun semua hal bersama
Saling berpegangan erat dengan ikrar yang dilafalkan berdua untuk selamanya
Namun, bagi jalan kedua, aku hanya memerlukan engkau mengetahui bahwa ada insan yang memberi rasa yang tulus padamu untuk menghabiskan waktu bersama hingga ajal menjemput.
Epilog sederhanaku, jangan sampai kau kecewakan hati orang yang sedang berlindung kepadamu.
Alana...
Alaska...
Akan menghidupkan pengharapan