Senin, 22 Juni 2020

Antara Rian, Mama dan Papa

Aku bukan sosok anak yang begitu dekat dan manja dengan kedua orangtuaku. Bahkan, hanya sekadar untuk cium tangan sebelum berangkat sekolah saja aku tak melakukannya. Gengsi karena tidak terbiasa. Hanya itu saja alasannya. Namun, walaupun demikian aku sempat tiga kali atau empat kali sengaja mencium tangan Papa dan Mama sebelum berangkat sekolah SMA. Tahu bagaimana rasanya? Hati tenang, tentram dan terharu. Tangan Papa dan Mama begitu kasar memikul beban hidup aku yang serba minta ini dan itu. Tanpa melihat apakah Papa dan Mama itu mampu melakukannya. Aku kadang memaksa keinginanku, dan seringkali Papa dan Mama memaksakan keadaan demi terwujudnya keinginanku.

Mungkin bila saat SMA aku tak iseng untuk mencium tangan Papa dan Mama, rasanya penyesalan seumur hidupku akan melekat abadi. Karena bagaimana mungkin seorang anak bungsu yang begitu dicintai Papa dan Mama belum sempat mencium tangan kedua orangtuanya.

Aku bahagia tak menerima penyesalan. Bahkan, aku bahagia sekali saat mengingat saat indah mencium tangan Papa dan Mama walau hanya 2 detik saja.

Tahun 2008 tepatnya aku mengingat momen yang indah itu. Papa dan Mama begitu amat membuat hati aku bahagia. Kalau aku setiap hari mencium tangan Papa dan Mama, belum tentu aku merasakan rasa kasih sayang yang aku terima saat mencium tangannya untuk pertama kali.

Bila kamu, siapapun yang membaca ini adalah seorang anak seperti aku. Beranikan diri untuk mencium tangan Papa dan Mama mu sekarang juga. Karena keberanian itu akan membuat kamu tertegun dan takjub betapa ajaibnya rasa kasih dan sayang orangtuamu. Bahkan, ingatan itu akan abadi sepanjang hidupmu. Percayalah, sentuhan lembut Papa dan Mama mu akan membawamu pada rasa cinta yang seutuhnya.

Momen itu takkan tergantikan, takkan terlupa. Papa dan Mama, ciuman tangan saat itu membuatku memiliki memori yang bisa dikenang walau kalian sudah tiada, kalian tetap hidup dalam hatiku sampai kapanpun. Aku menyayangi kalian, Papa dan Mama.

Sulit rasanya menuliskan kisah tentang Papa dan Mama tanpa menitihkan airmata. Mustahil. Karena airmata duka dan rindu bercampur aduk sehingga membawaku pada memori yang melekat pada ingatanku tentang kalian.

Dukaku dimulai dari 8 Desember 2010. Aku baru selesai Ujian Akhir Semester, duduk di ruang OSIS lalu ada panggilan telpon dari Papa yang mengabarkan tentang wafatnya Mama. Aku mengamuk, berteriak, memukul apapun yang ada di ruangan itu. Aku marah, aku tidak menerima, aku pun hanya tersungkur dan tangis yang tak berkesudahan.

Aku diantar oleh sahabatku, Mardin, ke rumah kakakku yang sehari hari menjadi tempat tinggalku selama sekolah. Sejak SMA, aku berpisah rumah dengan Papa dan Mama, aku di Kota Sukabumi dan MamaPapa di Cimelati yang berjarak 2 jam perjalanan.

Saat tiba di rumah kakakku, aku hanya dipeluk olehnya karena duka ini begitu amat dalam bagiku yang tak pernah sedikitpun bermimpi ditinggalkan oleh Mama yang begitu amat kucintai.

Padahal, belum genap seminggu Mama menemuiku di sekolah. Rela menempuh perjalanan dengan angkutan umum hanya untuk memberikanku uang jajan dari hasil menjual handphone miliknya. Aku saat itu tak menyangka sampai sebesar itu pengorbanannya. Saat itu aku mengajak Mama untuk makan siomay di kantin sekolah karena Mama belum makan. Selepas itu aku mengantarkan Mama naik angkutan umum dan aku kembali belajar di kelas. Aku terus memikirkan Mama yang besar sekali pengorbanan untuk anaknya. Aku hanya berdoa semoga di perjalanan Mama baik baik saja, selamat sampai rumah.

Aku tak mengira itu menjadi perjumpaan terakhir aku dengan Mama. Aku bergitu terpukul dengan kabar wafatnya Mama. Aku belum menerima semua duka yang begitu mengubah hidupku untuk selamanya.

Kakakku langsung mengajaku beranjak dari pelukannya dan bersiap menuju Rumah Mama dan Papa di Cimelati. Aku dibonceng A Erik untuk menuju ke rumah duka. Sepanjang perjalanan aku merasakan lama sekali sampai di rumah Mama, di jalan juga hujan deras dan akhirnya aku sampai di rumah Mama.

Aku berlari dan duduk disamping jenazah Mama dengan tangis yang tak bisa tertahan lagi. Aku langsung beranjak kembali memeluk Papa dan Kakak - kakakku. Aku merasa hidupku ikut selesai, karena Mama yang menjadi penopang hidupku sudah terbujur kaku.

Aku terus menerus menangis tanpa usai. Hingga akhirnya aku harus rela untuk berwudhu dan menyolatinya. Aku terus menangis tak berhenti. 

Mungkin aku yang paling kecil, semua kakakku memelukku dengan erat sambil memberi ketabahan. Aku tak kuasa lagi, aku tak kuat menahan duka yang begitu berat.

Akhirnya, jenazah Mama diberangkatkan ke Kota Sukabumi menuju Warudoyong, tempat Mama dibesarkan untuk disemayamkan di rumah duka tempat semua saudara Mama.

Aku berada di Ambulan disamping mama, ditemani Kakakku, Kiki. Sepanjang jalan, hujan deras dan aku terus saja menangisi kepergian Mama.

Aku merasa belum membahagiakannya, aku merasa Mama terlalu banyak berkorban untuk anak anaknya. Aku belum sempat mengucapkan "Iyan sayang Mama".  

Sesampainya di Warudoyong, Jenazah Mama dibawa ke rumah adiknya yang disambut rasa duka dan tangisan yang saling bersahutan. Mama, kita semua merasakan duka yang begitu berat.

Semalam suntuk semua silih berganti mengaji tanpa putus untuk Mama semoga doa dan lantunan ayat suci Al-Qur'an dapat membuatmu tenang di akhirat.

Pagi harinya, seluruh kerabat kembali menyolatkan Mama. Tangis aku kembali pecah saat menyolatkan Mama, bahkan berdiri saja aku tak bisa dan ada kerabat menahan dan menopang aku agar tak jatuh.

Aku merasakan tak berdaya, melihat Mama terbujur kaku disholatkan oleh kerabat dan keluarga. Aku berduka, aku sedih, aku terus menangisi kepergian Mama.

Aku bersama semua keluarga menggotong jenazah Mama untuk diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir nya di TPU Taman Bahagia. Aku ikut menggotongnya. Rasanya hati ini begitu amat terluka, tergores karena Mama akan pergi untuk selamanya.

Sesampainya di area pemakaman, aku hanya duduk dan menatap searah ke jenazah Mama. Aku akan merasakan rindu yang panjang ditinggalkan Mama. Bahkan tangisku begitu amat berat saat jenazah Mama mulai dimasukkan ke liang lahat. Mama, aku sayang mama.  Maafkan iyan yang belum buat Mama bahagia. Maafin iyan ma :(

Lalu, saat semua beranjak dari pemakaman aku menemui makam Mama yang masih baru. Aku berdoa semoga Mama tenang. Semoga amal ibadahnya diterima Allah. Dosa dan kesalahannya dihapuskan. Dilapangkan alam kuburnya.

Setelah Mama wafat. Aku sepulang sekolah, setiap hari selalu mengunjungi makam Mama walau sekedar hanya berdoa surat-surat pendek. Aku yang belum mampu membeli bunga, aku hanya membawa tangan kosong setiap bertemu Mama. Sampai suatu saat penjaga makam ternyata memperhatikan ku dan aku banyak bercerita tentang beratnya ditinggal Mama yang begitu amat berharga bagi aku. Awalnya mungkin dia melihat aneh, ada seorang anak pakai seragam SMA setiap hari berkunjung ke makam. Saat itu aku hanya berpikir, hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus rasa bersalahku dan rasa rinduku kepada Mama.

Setiap bulan, Papa selalu ziarah ke Mama. Terkadang aku menemaninya atau Papa datang sendiri. Ternyata, Papa diceritakan oleh penjaga makam tentang kelakuanku yang setiap hari mendatangi Mama. 

Selang waktu berganti, aku takut sekali ditinggalkan oleh orang yang sangat berharga. Aku hanya punya Papa. Selisih 6 tahun, ajal menjemput Papa pada akhir Mei 2016. Aku saat itu sudah kuliah di Jakarta, dan Papa pun sudah tinggal di Jakarta.

Namun, saat mendapatkan kabar wafatnya Papa. Aku baru saja sampai di Kota Sukabumi. Akhirnya, aku langsung kembali ke Jakarta dengan diterjang hujan deras dan rasa yang sangat lama untuk sampai di Rumah Kalipasir, Cikini.

Hampir 4-5 jam, akhirnya aku sampai dan berlari lalu tersungkur disamping jenazah Papa yang sudah wafat. Aku terus menangis, meratapi betapa hidup ini begitu kejam terhadapku. Aku menjadi yatim piatu. Aku sangat mencintai Papa. Bahkan, selama bertahun-tahun transisi aku berkuliah, aku menemani Papa tinggal hanya berdua di Cigombong. Bahkan aku harus pulang pergi Cigombong-Lenteng Agung untuk kuliah. Ya, yang terpenting Papa aku temani setiap hari walau perjalanan melelahkan selama awal perkuliahan. 

Selang satu tahun, Papa dan aku pindah ke Citayam. Jarak menjadi lumayan dekat dari kampus. Namun, karena jarak yang dekat membuatku terlena dan sering sekali tidak pulang menemani Papa. Berkali kali Papa menelpon untuk menyuruhku pulang.

Aku begitu menyesal karena tidak memanfaatkan waktu dengan Papa saat itu. Alhasil, setahun kemudian Papa tinggal di Kalipasir, Cikini. Sementara aku mulai kost di dekat kampus.

Intensitas aku dan Papa semakin berkurang. Walau sesekali aku menemui Papa tapi tak sesering seperti di Cigombong.

Tapi aku mulai menjadi pendengar yang baik, semula aku agak cuek dengan cerita Papa. Tapi, saat di Cikini, aku begitu memastikan bahwa kehidupan Papa harus terpenuhi. Papa pernah cerita, di kamar Papa kan ada Meja Makan di situ lengkap makanan roti tawar, susu dan selai sebagai menu sarapan wajib Papa. Namun, suatu kesempatan Papa bercerita bahwa ada orang yang membobol kamar Papa untuk mengambil Baygon dan kecap Papa. 

Alhasil, mendengar cerita itu aku marah dan membuat perhitungan dengan orang orang disitu. Dan aku melengkapi apa yang Papa butuhkan saat itu.

Papa selalu bercerita tentang kisahnya, aku begitu amat mendengar cerita itu. Karena dalam hati kecilku saat itu sadar seutuhnya bahwa Papa membutuhkan anaknya untuk teman bercerita.

Dalam suatu kesempatan, aku punya kisah yang sangat membuatku sedih. Setiap awal bulan Papa selalu mengambil gaji pensiunan ke Cicurug. Dari Jakarta biasanya Papa jalan sendiri naik Commuter Line dan lanjut naik angkutan umum sampai ke Cicurug. 

Aku beberapa kali menemani, namun beberapa kali tak bisa menemani. Aku merasa bersalah karena Papa bercerita sempat jatuh di tangga Stasiun Bogor. Aku kesal dengan diriku sendiri. Akhirnya aku berjanji untuk mengantarkan Papa setiap awal bulan. 

Tapi suatu saat, Papa menyarankan aku untuk memboncenginya menggunakan motor. Aku awalnya ragu karena khawatir papa masuk angin dan lelah di motor. Akhirnya, aku menuruti maunya Papa.

Disepanjang perjalanan, aku sering berhenti untuk Papa beristirahat. Sekalipun jalan kembali, tangan kiri ku memegang badan Papa yang miring di jalan karena kelelahan. 

Paling parah, saat perjalanan pulang, sepertinya Papa sudah tidak sanggup sehingga tubuh Papa ga kuat lagi menahan sehingga aku berhenti di sebuah warung untuk mengistirahatkan Papa dan merebahkan Papa. 

Setelah itu aku meminta Kantor Pos cicurug untuk  membantu transfer ke rekening Papa supaya stiap bulan Papa ga kecapean harus ke cicurug. 

Papa, sosok yang tegas dan juga begitu peduli dengan aku. Bahkan, untuk hal hal kecil saja Papa menaruh perhatian.

Saat aku tinggal berdua di Cigombong dan Citayam, aku dan Papa saling bertukar cerita. Aku sering masak untuk Papa dan Papa pun sering merebuskan telur untuk aku. 

Aku dan Papa menjadi lebih dekat, berbeda seperti saat aku SMP. Aku anak yang jarang cerita atau ngobrol dengan Papa. Tapi, saat aku kuliah dan tinggal berdua Papa aku begitu bahagia bisa begitu dekat dengan Papa.


Namun, kini Mama dan Papa sudah tiada. Mama sudah tiada 10 tahun lalu. Papa juga sudah tiada 4 tahun lalu.

Aku terkadang merenungkan apa yang aku terima sebagai kenyataan hidup. Aku dulu punya Mama dan Papa yang selalu ada untuk aku. Namun, kini aku serba sendiri tanpa Mama dan Papa.

Seringkali aku merasa ga bisa memaafkan diri aku sendiri karena telah membiarkan Mama dan Papa berjuang terlalu berat untuk aku dan anak anaknya. Aku merasa bersalah menjadi beban bagi mereka, tanpa sama sekali aku menanyakan tentang apa yang mereka rasakan.

Kini, aku sudah terlalu terluka dan berduka karena Mama dan Papa tiada. Duka yang aku rasakan akan begitu perih terasa. Bahkan, bila teringat Mama dan Papa, airmata akan menetes dan rasa rindu tak terelakkan lagi.

Seringkali dalam perjalanan hidup saya, saya berusaha tak begitu mengingat Mama dan Papa sebab aku selalu bersedih karena sosok mereka yang tak ada lagi. Air mata selalu menjadi teman dari kerinduan ku.

Kadang aku sombong melupakan Mama dan Papa sejenak untuk membuat aku tak lagi menangis. Iya, aku begitu egois dan sombong. Tapi bukan tanpa alasan, sebab aku seperti di ruang hampa, entah kemana aku harus bercerita, entah kemana aku harus mengadu, entah kemana juga aku harus menyadari bahwa semua sudah tiada. 

Aku sangat merindukan Mama dan Papa. Sosok mereka tak tergantikan oleh apapun. Aku sering melakukan sesuatu yang besar, walau di awal terkadang terlalu mustahil aku lakukan tapi aku lakukan untuk membuat Mama dan Papa bangga. 

Aku tahu aku terlambat, Ma, Pa. Tapi iyan baru bisa melakukan sesuatu sekarang, maafin iyan.

Iyan dulu ngotot pengen jadi atlet silat dan juara. Bukan iyan pengen dapet beasiswa atau dilirik orang, engga sama sekali. Iyan pas menang dan jadi juara silat itu supaya Mama dan Papa bangga punya anak berprestasi.

Pas kuliah iyan sambil kerja, ribet ngatur waktu ini itu. Itu biar Mama dan Papa bangga punya anak mandiri, walaupun setiap bulan Iyan bawelin minta jajan. Maafin iyan Ma, Pa.

Sampai akhirnya, Iyan kemaren 2019 nulis buku tentang Satire untuk Politikus dan launching gede-gedean. Motivasi iyan bukan politik atau kritik atau apalah. Tapi, Mama dan Papa yang semoga aja bisa liat iyan sampai sejauh ini. Makanya iyan undang Teh Eli supaya bisa wakilin Papa sama Mama di acara itu. Dari sekian ratus kursi di kantor Walikota Jakarta Selatan, iyan berharap banget bisa liat Mama dan Papa. Tapi sayang banget Ma, Pa, pas iyan sambutan di panggung, iyan nyari Mama dan Papa di kursi penonton ga ada. Iyan sedih Ma, Pa.

Tapi iyan tahan ga nangis pas sambutan kok Ma, Pa. Tapi disitu iyan pengen banget bilang makasih sama Papa dan Mama yang bikin iyan sampai sejauh ini. Tapi iyan cuma bisa bilang di hati doang Ma, Pa, soalnya iyan pasti nangis kalo sampe terucap di panggung.

Ma, Pa, tahu gak sih, iyan suka nangis sendirian kangen sama Mama dan Papa?

Tahu ga sih, iyan kesepian banget pengen punya orang tua, Ma, Pa?

Apalagi pas wisuda SMA sama S1, Mama dan Papa ga ada nemenin iyan. Kangen tau Ma, Pa, kangen banget.

Makanya iyan sekarang lagi kuliah S2, walaupun lagi cuti dulu karena berat biayanya, tapi iyan pengen banget Mama sama Papa dateng ke wisuda iyan, sekali aja Ma, Pa. Boleh ya?

Iyan ga pernah ditemenin Mama sama Papa pas wisuda. Iyan juga pengen Mama dan Papa liat iyan lulus kuliah. Iyan pengen banggain Mama, Papa.

Yaudah, Pa, Ma, Iyan sekarang suka kesepian banget kaya gini. Pengen banget gitu sekali kali ditanyain kabar sama Papa dan Mama. Kaya temen temen iyan yang suka ditanyain orangtuanya.

Iyan juga mau dimarahin Mama sama Papa, biar temen iyan juga tahu kalo iyan juga punya orangtua gitu. 

Iyan pengen bareng-bareng Mama, Papa lagi kaya dulu. Iyan kesepian banget ga ada Mama, Papa. 

Pa, Ma, semoga tenang ya di kuburnya. Iyan gapapa suka nangis sendirian kangen sama Mama, Papa. Tapi yang penting Mama, Papa tenang di alam kuburnya. Ga seberapa kok iyan harus berkorban sendirian, asalkan Papa sama Mama bisa tersenyum liat anaknya bisa sukses.

Iyan cuma bisa berdoa semoga Papa dan Mama diberikan ampunan atas dosa dan kesalahannya. Dan iyan juga berdoa semoga Papa dan Mama diterima Iman dan Islamnya serta amal ibadahnya.
Semoga diterangkan, diluaskan alam kuburnya. Dijauhkan dari siksa kubur dan neraka. Dan semoga juga Allah SWT menyayangi Mama dan Papa, sebagaimana Mama dan Papa sayang banget sama iyan.

Iyan sayang banget sama Papa sama Mama. Iyan doain Mama dan Papa jadi penghuni syurga yang selalu bahagia di alam sana.

Pa, Ma, jangan pernah sedih ya. Maafin iyan belum bisa buat Mama dan Papa bahagia. Terimakasih Mama dan Papa udah sayang sama iyan, udah didik iyan, udah ngebesarin dan berjuang buat iyan.

Iyan kangen sama Mama, Papa. Kalau iyan lagi sedih karena kangen sama Mama, Papa.

Mama dan Papa jangan ikutan sedih ya :) 

Tersenyum dan bahagia ya Ma, Pa.

Sibungsunya nangis lagi nih, lagi kangen sama Mama, Papanya :')