Kata siapa aku sendiri?
Kata siapa juga aku bisa mati dalam kesendirian?
Sangat tidak mungkin!
Aku, anak paling kecil yang cukup tangguh hidup dalam kesendirian.
Tangguh pula dengan memikul hidup dengan kesendirian.
Cukup tangguh juga untuk menentukan arah hidup sendirian.
Orangtuamu mana?
Mereka tetap kekal dengan kasihnya, mereka tetap kekal dengan cintanya, mereka tetap kekal dengan belaiannya. Untuk siapa? dipersembahkan hanya untuk anaknya yang paling kecil, yang begitu sombongnya ingin memikul hidup sendirian.
Amat berdosa, si anak hanya memikirkan dirinya sendiri. Orangtuanya tak lagi ia pikirkan, padahal mereka lah yang sangat ingin berjumpa dengan si anak. Anak durhaka?
Lalu si anak meringis, bersedih tiba-tiba.
Mengapa kau begitu bersedih?
Hapus air matamu!
Mana ketangguhanmu yang membuat hidupmu begitu amat berani dalam kesendirian?
Si anak dengan bibir yang bergetar, ia mengatakan: 'aku rindu, aku ingin bertemu, aku ingin bersama, aku tak mau sendirian'
Bukankah engkau sangat amat tangguh menyendiri? Orangtuamu tak kau pikirkan, tak kau pedulikan?
Si anak lanjut berkata, 'aku hanya tak ingin larut dalam kesedihan, aku tak ingin ibu dan ayahku melihatku terus bersedih. Aku pun tak ingin menjadi anak yang terlihat sedih ditinggal pergi untuk selamanya. Lebih baik aku menyibukkan diri untuk lari dari kesedihan dan kepedihan. Kesendirian, adalah teman terbaikku kini.'
Lalu mengapa begitu bersedih? Kau katanya tak ingin bersedih.
Si anak berucap perlahan, 'izinkan aku bersedih untuk beberapa saat, setidaknya untuk mengobati rasa rindu kepada ibu dan ayah. setelah itu, aku akan memakai kebohonganku lagi untuk tersenyum dalam kesendirianku'.