Terangi dalam gelap yang sunyi
Meniti setapak demi setapak dalam alur yang kosong
Lahir dalam kondisi yang polos
Tak sanggup membuka kelopak mata yang lucu
Mengeluh bukan berarti tak sanggup
Menangis bukan berarti lemah
Tapi bertahan untuk menggapainya
Ketakutan menggerayangi
Rasa waswas memperkosanya
Duduk disudut ruang
Hanya termenung...
Alunan nada memanjakan telinga
Berdiri dalam alam yang membentang
Fatamorgana...
Matanya yang sayu mengantuk
Berjalan sempoyongan tak mampu lurus
Berdiri tegak atau diam tertindas!
Selasa, 21 April 2015
Senin, 06 April 2015
Syukur dalam Hening
Pejamkan mata dengan hati yang damai
Tangan yang mengelus lalu semakin sendu
Nadi yang berdenyut beriringan
Tertunduk malu dan enggan untuk berucap
Sesekali tidurlah dini hari
Agar bisa merasa nikmatnya tertidur
Sesekali rasakan lah lapar
Agar merasa nikmat saat makan yang lahap
Ia menerawang, menerobos persembunyian
Ruang gelap dan amat kosong…mengerikan !
Damainya telah hilang dan tak tentu kembali
Terlalu silau menerpa cahaya
Terlalu bergemuruh diselimuti ombak
Ombak pun dapat mencabik dan menenggelamkan makhluk
Orangtua renta duduk di pesisir nan indah
Berharap senja mampu menyelamatkan
Matahari pun perlahan tenggelam dan melahirkan bulan
Cahaya bulan tak mampu menyainginya
Ritme klasik berdengung
Mencair dalam ingatan
Seketika luka pun terbuka dan membakar
Bukan sekadar primbon yang memberi prediksi
Bukan pula anyaman yang selalu bergelombang
Bukan juga haci dengan kesendiriannya
Bukankah yang terjadi begitu terpendam?
Langganan:
Postingan (Atom)