Minggu, 23 Agustus 2015

Selamat Datang MAHASISWA BARU IISIP 2015

Assalamualaikum Wr. Wbr.

Salam Mahasiswa !

   Puji dan syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat pemilik Syurga dan Neraka dan penguasa bumi, yakni Allah SWT. Selamat datang dan bergabung bagi mahasiswa baru IISIP Jakarta 2015 di gerbang intelektual yang penuh pergejolakan pemikiran dan kekritisan terhadap perubahan peradaban.
       
   Bagi mahasiswa baru, saya ucapkan selamat atas predikat MAHA dari kesiswaannya kawan kawan yang sejak hari ini terpatri sebagai identitas kawan kawan sebagai mahasiswa.
       
 Perkenalkan nama saya SAFARIANSHAH ZUKARNAEN, mahasiswa Ilmu Jurnalistik Angkatan 2012. Sebelumnya, saya menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HIMAJUR) periode 2014 - 2015 dan  saat ini dengan kebulatan tekad bersiap maju dalam Pemilihan Presiden BEM IISIP Jakarta.
   
 Perlu diketahui, BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa ialah lembaga eksekutif tertinggi di IISIP Jakarta. Dalam perjalanannya BEM IISIP dahulunya bernama SENAT, namun dengan perkembangan dan arus reformasi menjadikan perubahan nomenklatur menjadi Badan Eksekutif  Mahasiswa yang disingkat BEM.

 Saya memiliki visi “ MEWUJUDKAN KARAKTER MAHASISWA IISIP JAKARTA YANG KRITIS – SOLUTIF, SANTUN DALAM BERKEPRIBADIAN DAN RESPONSIF TERHADAP PERUBAHAN PERADABAN”.
       
   Tentu harapan besar ini dapat diwujudkan oleh tekad yang kuat dan kerja kolektif dari berbagai unsur organisasi kemahasiswaan IISIP Jakarta.

          Visi diatas saya konversikan menjadi butiran butiran misi diantaranya :
1.     Memperkokoh kelimuan dan spiritual mahasiswa IISIP Jakarta
2.     Memastikan keterlibatan kolektif seluruh unsur organisasi kemahasiswaan internal IISIP Jakarta.
3.     Melakukan renegosiasi dengan pihak rektorat sehingga pemerataan Sekretariat HIMA dan UKM dapat terealisasi.
4.     Menghimpun, menganalisis dan melakukan tindakan solutif terkait dengan permasalahan yang berkaitan dengan mahasiswa dengan kata lain memberikan advokasi penuh kepada mahasiswa.
5.     Membangun kesadaran kolektif untuk Memerangi Narkoba di IISIP Jakarta.
6.     Membuka ruang diskusi Ke Agama an, Ke Mahasiswa an, ke Indonesia an dan Keilmuan.
7.     Memastikan BEM sebagai lembaga sentral pengaduan mahasiswa dan populis dengan tindakan konkret dan solutif.
8.     Menata administrasi BEM yang tertata rapi dan merekomendasikan HIMA/UKM agar membenahi hal hal administrative..
9.     Memberi ruang konsultasi dan atau jembatan informasi bagi mahasiswa IISIP Jakarta terkait dengan perkuliahan atau persoalan mahasiswa lainnya.
10.                         Aktif dalam pembahasan isu isu nasional/global dan berupaya melakukan pergerakan massif mahasiswa.
          Kawan kawanku, diatas merupakan buah pemikiran saya yang tentu akan terwujud nyata, saya mengajak kepada kawan kawan sekalian untuk sama sama menyingsingkan lengan, menyatukan langkah dan merapatkan barisan. Saya menyadari bahwa saya seorang insan manusia yang memiliki kesalahan dan kekeliruan, maka dari itu, dalam rangka penyempurnaan langkah kolektif kita bersama sebagai mahasiswa IISIP yang sederhananya menginginkan perubahan agar melakukan hal hal positif dan mengevaluasi harapan yang saya tuliskan dalam visi dan misi serta mari bergabung bersama saya agar kerja kolektif kita dapat berjalan maksimal dan apa yang dituliskan dapat tercipta.
“Demi Pena dan Segala Yang Dituliskan,”
          Saya mengucapkan terimakasih atas perhatian kawan kawan sekalian dan semoga Allah senantiasa memberikan kita rahmat, ampunan dan berkah bagi kita sekalian. Semoga ini menjadi titik awal perubahan identitas dan karakter mahasiswa IISIP yang senantiasa kritis, responsif, intelek, solutif yang mengabdikan diri untuk Agama, Bangsa dan Negara.
Yakin Usaha Sampai !                                         
 Safarianshah Zulkarnaen

Wassalamualaikum Wr. Wbr.








Rabu, 15 Juli 2015

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H


Assalamualaikum Wr. Wbr.

Secara fitrah, manusia dilahirkan dalam keadaan baik dan memiliki kecenderungan dalam kebaikan, akan tetapi manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, yakni diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, ke arah yang baik atau pun buruk. Keduanya memiliki konsekuensi!

Manusia terlalu fakir dihadapan, Allah SWT, Dzat Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, kita sebagai manusia seyogyanya tunduk dan patuh serta melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Untuk itu, sebagai seorang insan manusia yang penuh dengan kesalahan dan dosa, maka saya Safarianshah Zulkarnaen dalam momentum ini mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Minal 'Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Dengan segala kerendahan hati dan jiwa, saya memohon maaf kepada seluruh sahabat yang sempat terlukai hatinya baik dalam keadaan sengaja maupun tidak sengaja. Semoga di hari yang fitri ini kita kembali berkomitmen dan beristiqomah untuk tetap menjadi insan yang mencintai Allah SWT.

Tiada kesan yang Maha indah, melainkan mengingat Allah SWT.
Fastabiqul Khairat.

Wassalamualaikum Wr. Wbr.

Jumat, 19 Juni 2015

Aku Bukan Kalian

Bermukim di bumi, bumi yang terbentang luas
Namun mata manusia tak mampu melihat dalam satu pandangan
Manusia yang tak selamanya bersalaman saat berjumpa
tak seperti kawanan semut yang berjalan beriringan saling bertegur sapa (katanya)

Simbol manusia bukan saling menyingkirkan, maupun menginjak
Keluarga dan orang terdekat menjadi orang pertama yang melawan
Melawan terhadap perlakuan yang menyakitkan
Sungguh sakit apabila dirasakan sendiri dan seorang diri

Bukan merasa sok kuat atau mampu
Tapi enggan untuk berucap
Enggan untuk berkeluh kesah
Rasanya diri ini tak perlu menyampaikan

Namun mengapa tak banyak hal yang bisa dilakukan
Mengikuti alurnya sungguh amat lelah
Lelah yang berarti
Namun kadang membuat belenggu kesakitan hati yang dalam
Namun aku hanya menelan ludah
Menunduk dan mencari alasan agar aku bisa dalam posisi yang salah

Posisi ini janganlah terlalu lama
Ingin rasanya menjadi manusia yang mampu mengindahkan
Membuat bangga tapi belum tentu mendapat prestise
Enggankah untuk membuatnya bangga?
Hanya pengungkitan yang aku terima
Hanya buaian yang selalu menyakitkan

Cukuplah rasa hormat ini
Namun aku belum mampu berdiri sendiri secara utuh
Masih membutuhkan pijakan yang lain

Mengertilah..
Dan buka selapang - lapangnya hati yang tulus
Aku bukan sekeping sampah
Bukan juga bangkai yang hanya terbujur tak bernyawa
Aku adalah sebagian kecil dari hidup kalian yang ingin merasakan indahnya pikiran kalian

Ini takkan lama rasanya....(sepertinya)
Membantu memang iya
Namun sakit apabila caranya tak lazim
Dalam prinsip memanusiakan manusia
Serta mengkeluargakan keluarga tidak menjadi jawaban pilu

Hasrat ini tulus hingga tak mampu berucap, namun masihkah aku tertegun dalam kesendirian?






Selasa, 21 April 2015

Bahaya dalam Gelap

Terangi dalam gelap yang sunyi
Meniti setapak demi setapak dalam alur yang kosong
Lahir dalam kondisi yang polos
Tak sanggup membuka kelopak mata yang lucu
Mengeluh bukan berarti tak sanggup
Menangis bukan berarti lemah
Tapi bertahan untuk menggapainya

Ketakutan menggerayangi
Rasa waswas memperkosanya
Duduk disudut ruang
Hanya termenung...

Alunan nada memanjakan telinga
Berdiri dalam alam yang membentang
Fatamorgana...
Matanya yang sayu mengantuk
Berjalan sempoyongan tak mampu lurus

Berdiri tegak atau diam tertindas!

Senin, 06 April 2015

Syukur dalam Hening

Pejamkan mata dengan hati yang damai
Tangan yang mengelus lalu semakin sendu
Nadi yang berdenyut beriringan
Tertunduk malu dan enggan untuk berucap

Sesekali tidurlah dini hari
Agar bisa merasa nikmatnya tertidur
Sesekali rasakan lah lapar
Agar merasa nikmat saat makan yang lahap

Ia menerawang, menerobos persembunyian
Ruang gelap dan amat kosong…mengerikan !
Damainya telah hilang dan tak tentu kembali
Terlalu silau menerpa cahaya
Terlalu bergemuruh diselimuti ombak
Ombak pun dapat mencabik dan menenggelamkan makhluk

Orangtua renta duduk di pesisir nan indah
Berharap senja mampu menyelamatkan
Matahari pun perlahan tenggelam dan melahirkan bulan
Cahaya bulan tak mampu menyainginya
Ritme klasik berdengung
Mencair dalam ingatan
Seketika luka pun terbuka dan membakar
  
Bukan sekadar primbon yang memberi prediksi
Bukan pula anyaman yang selalu bergelombang
Bukan juga haci dengan kesendiriannya

Bukankah yang terjadi begitu terpendam?

Selasa, 31 Maret 2015

Puitiskah Sang Malam ?

Senja terlalu manja dimalam ini
Bersandar pada dekapan yang begitu erat
Terkunci dalam kesunyian yang semakin merenta
Gelisah yang berubah menjadi gusar
Hanya renungan yang menunjukkan arah
Bukan arah menuju ketabuan
Tapi arah yang menghantarkan pada sosok yang menyenangkan

Jumpa dengan sang malam,
Selimut menjadi sahabat terbaik saat menggigil
Air menjadi jawaban atas dahaga yang menyerang
Rindu yang menjadi pusaran kekuatan
Bangkit dalam keheningan yang semakin sendu
Entahlah...

Melankolis...

Malam ini terlalu puitis dari malam malam sebelumnya
Keyakinan terlahir dari nalar dan nurani
Kegundahan yang semakin terkikis
Kerasnya batu pun akan termakan zaman

Malam yang sendu
Malam yang semakin merintih
Menginginkan berada pada peraduan
Tanpa adanya potret semu

Minggu, 29 Maret 2015

Mendatangi Keniscayaan

Pernahkah engkau bertanya pada sang malam?
Malam yang menelisik malu tanpa berbisik
Suara bergemuruh, bising dan hanya membutakan lisan
Lahirnya insan ke dunia dari rasa cinta yang hakiki
Dunia yang fana...
Dunia yang hanya meninabobokan rasa hormat
Dunia yang meluluhkan rasa segan, rasa enggan, rasa mencintai dan rasa mengayomi

Setitik cahaya malu bersinar
Nampak sedikit demi sedikit lahir ke permukaan
Bola mata sesungguhnya dekat dengan penglihatannya
Hidung pun begitu dekat dengan penciuman
Mulut yang berdekatan tutur kata
Tapi nurani tak sama

Tak begitu bringas seperti tuan pada budak
Tak begitu kejam seperti ibu tiri dalam cerita fiksi
Pesan yang tak pernah tersampaikan
Bahkan tak pernah terpikirkan
Hanyalah keniscayaan...
Malu pasti tertunduk dan angkuh pasti menegakkan lebih
Dunia fana ini bukan ajang eliminasi
Bukan juga saling menuding
Bukan juga menunggu keniscayaan
Tapi menjemput keniscayaan dari lorong yang amat tak terpandang

Jangan berteriak dalam diam karena nurani tak mampu menjangkau...

Rabu, 07 Januari 2015

Batu Terjal Kehidupan Sang Ego

Manusia terlalu kikir menjalani alur kehidupan yang dijalani
Terlena dengan menatap langit yang indah dan terlupa...
Risih dengan batu terjal yang menerjang dihadapannya
Sombong dan terlalu melihat keatas
Kerikil yang menusuk  tapal kaki sungguh sakit
Versi melankolis, mata pun bisa tergenang dan berurai
Risih dan ingin akhiri semuanya
Sungguh #egomanusia sungguh tinggi
Dasar laut yang sangat dalam

Dan mulai terlupakan...

Apa yang sebetulnya dilupakan?
Hanya ada satu jawaban, yakni TUHAN.

Setajam apapun kerikil yang menusuk, kerikil pun takkan merasuk kedalam paru - paru
Sesedih apapun manusia menangis, air mata takkan habis
Tapi tak sadar, kesakitan itu bukan datang sebagai musibah tapi keniscayaan

Mata yang suntuk
Hidung yang mulai tersumbat
Tenggorokan yang mulai mengering
Api rokok tetap memakan tembakau didalamnya

Banyak keluhan dari sang ego dan sang sombong
Merasa mampu tanpa Tuhan?
#KunFayaKun

Sesempit apapun lorong yang ada didepan manusia, dengan adanya TUHAN, maka kesempitan ini akan menjadi samudera yang luas
Peluang sesukar apapun dalam nalar manusia, tetap menjadi persoalan mudah bagi TUHAN.
Kita sungguh fakir dihadapan Tuhan.

Tak perlu menyombongkan diri mampu untuk menerjang arus

Tuhan pembuat skenario Maha Agung
Tuhan memiliki Al Qur'an sebagai karya sastra yang Maha Agung
Menjadi pedoman dan arahan bagi umat manusia

Wallahu 'alam