Sabtu, 02 Juli 2016

(Menunggu) Isyarat Kembali

Ditengah doa yang teriring dan kalimat suci yang selalu dikumandangkan. Aku tetap dalam ruang sunyi walau ditengah keramaian yang seakan bermetamorfosa dalam kesendiriannya

Nuansa dahulu mustahil didapat dan dirasakan kembali. Nostalgia dengan kehangatan dengan kebersamaan yang menyatu dalam ikatan kokoh yang disebut keluarga

Mengingat setiap waktunya
Mengenang setiap masanya yang terpotret dalam album kenangan
Mengungkap hanya didalam benak tak mau lagi berucap banyak

Roman para pujangga kerap berteriak tentang kebahagiaan hidup sssssttt....kerap juga membisikan kesakitan hidup. Namun kali ini roman dalam bentuk yang nyata tanpa kamuflase ataupun torehan hal yang masih fiktif dirasakan

Suasana keseharian menjadi berbeda
Asing aku merasakannya
Gundah aku sering dibuatnya
Hanya mencapai klimaks saat sendiri dan merenungkan nasib apa yang hendak kucapai nantinya. Entah....
Meratapi hanya membuat hidup tertahan
Bertahan hanya membuat hidup tak bangkit
Apa yang perlu kulakukan?
Mengembalikan semuanya seperti sediakala.

Disaat ibu sibuk memasak air panas untuk mandi anak bungsunya
Atau ayah yang mengajarkan nilai kehidupan
Sedangkan kini anak bungsunya tertegun dalam kesendiriannya
Tak seperti dulu 
Tak seindah dahulu
Seperti inikah hidupku kini? Mampukah menjalani?
Memanjakan diri kepada orangtua
Mengadukan persoalan kepada ayah ibu
Hanya nostalgia
Hanya nostalgia
Dan hanya nostalgia

Nostalgia bisa membuat kita bangkit atau semakin mengiris rasa tak menerima arti sebuah kehilangan
Anaknya sendiri dan tak ada yang mengayomi 
Tak ada yang senantiasa membubuhkan tanda tangan dalam setiap berkas sekolah

Asing bagiku asing bagi kehidupanku saat ini


*
Pasangan terindah dan pasangan terabadi kini tersematkan dalam singgasana yang duduk diantaranya ibuku tercinta dan ayahku tersayang. 
Aku mendoakan engkau disana sebagai ungkapan terimakasih yang tak terhingga bagi kalian yang mencatatkan sejarah bagi kehidupanku dimasalalu
Suara detik kian berdering dan hati kian berdetak
Namun hanya setitik harapan untuk bangkit dan mempertontonkan kepada ibu ayah tentang kesuksesan anaknya tentang kebahagiaan anaknya yang diimpikan semenjak 1 juli 1995 atau kelahiranku dimuka bumi yang cukup memilukan ini
Aku terlalu dini untuk menerima segenap kehilangan yang membekas dalam
Aku terlalu sendiri ditengah keramaian dan kehangatan keluarga dari temanku yang lain
Apabila Tuhan mempertanyakan apa yang paling aku inginkan didunia ini? Aku lekas menjawab...

"Aku hanya ingin keluargaku"

Aku hanya ingin hangatnya bersama beriringan dan takkan lekas berakhir
Sampai kapan pun...
Ibu ayah yang menjadi tumpuan hidup kini telah tiada 
Hilang bersama keindahan kenangan yang ditorehkan
Aku bukan sosok yang melankolis atau pun kerap tergores hati nuraninya
Namun aku sosok yang teradaptasi dari nasib hidup yang membuatku semakin sendiri dan semakin asing dalam kesendiriannya
Ibu dan Ayah
Aku hantarkan doa yang tulus dan kekal yang senantiasa terucap dari lubuk sanubariku yang terdalam bahwa aku menyayangi kalian aku mencintai kalian aku menginginkan kalian bersama mengasuhku sedianya semasa ku kecil dahulu
Ibu dan Ayah
Aku menginginkan Tuhan menyayangi kalian seperti kalian yang senantiasa menyayangiku semasa kecil belia.  
"Rabbigfirli Wali wali daya warhamhuma kamaa rabbayani shagiraa"

Dariku yang menginginkan kalian kembali memelukku dan menciumku dalam kehangatan indahnya keluarga yang utuh

Untukmu pelitaku
Alm. Iskandar M Zen (14/12/1934 - 23/5/2016)
Almh. Titim Fatimah (2/1/1952 - 8/12/2010)






.

Minggu, 12 Juni 2016

Diantara Senja, Romantisme dan Kesenangan

Membisikan untaian kalimat dalam kebisingan bahkan berteriak dalam diamnya dalam kesendiriannya.
Mengasingkan diri dari gemerlapnya hidup bahkan mengasingkan diri dari keterasingan lainnya
Senja  yang semakin memeluknya
Romantisme yang semakin hangat
Dan Kesenangan yang melupakan keduanya
Membisu dalam keramaian, mencari kesenyapan yang seutuhnya abadi
Pujangga pernah berucap bahwa jarak yang terjauh bukan menjangkau garis kathulistiwa bukan juga menjamah pelosok negeri yang terasing.
Namun, jarak terjauh ialah ketika saling berjumpa  namun tiada kata yang terucap.
Menelisik arti sebenarnya yang mampu mendiamkan diri, mendiamkan waktu atau memutar separuh waktu ini untuknya
Saling memaknai dan menebak arti yang sebenarnya tidak akan berujung dan hendaklah kembali pada makna yang telah digariskan Tuhan dalam keniscayaannya.


~SRZ

Senin, 28 Maret 2016

Sepenggal Mozaik di Ranah Panzer


Hari itu, 11 Januari 2013 aku berhasil menapaki salah satu Negeri penuh emosi, keangkuhan, dan bernasionalis tinggi. Begitu dingin ternyata Jerman, sangat jauh berbeda dengan di negeri khatulistiwa. Butiran salju yang menyerupa bentuk daun ganja senantiasa berterbangan seakan menyambutku dengan penuh sukacita. Senang, bahagia, haru berselimut air. Tidak pernah terbersit suatu cita aku akan berada disini.
Ini pertama aku hidup dengan makna ‘Perantau‘. Jauh dari orang tua, sikap memilah harus dikedepankan, dan mindset mandiri mesti dipatok didalam otak. Dan penggalan lirik Iwan Fals sangat mengena “engkau lelaki, kelak sendiri“. Esok hari aku mendaftar sebagai pelajar Indonesia yang berdomisili di Jerman.
Seminggu setelah berkenalan dengan kota Berlin, aku melangkahkan kaki untuk menjalani masa Pra Kuliah yaitu Studienkolleg. Ini semacam matrikulasi untuk penyetaraan lama pendidikan karena di Jerman wajib pendidikan minimal 13 tahun. Bonn, kota penuh sejarah, eksotis, nyaman bagi para musisi classic berasal. Sebut saja Ludwig van Beethoven, Bonn ialah kota kelahirannya. Tak jarang banyak sekali yang ingin menempuh pendidikan dengan kategori music disana. Dan juga salah satu markas besar dunia jurnalistik Jerman berada Deutsche Welle (DW TV).
Pukul 09,00 waktu Jerman aku bersiap untuk menuju Bonn menggunakan salah satu alat transportasi terbaik Jerman Inter City Express (ICE). Serupa Shinkansen kereta api tercepat yang ada di dunia sekarang. Perlahan Berlin mulai kutinggalkan dengan syahdu tanpa berkenalan lebih jauh. Hiruk pikuk ibukota sangat jelas terlihat dengan hadirnya mobilitas tinggi dipusat-pusat kota. Hamparan savana yang telah terlapisi salju mulai terlihat. Begitu tebalnya menyelimuti savana yang sangat hijau ketika summer hadir. Kiranya 9 jam perjalanan yang ditempuh untuk mencapai Bonn.
Bonn, kota indah ditepi sungai Rhein. Sungai impianku bersama ayahku yang kala itu pernah mengikrarkan janji untuk menapaki bersama. Layaknya sungai Seine yang berhadapan langsung dengan menara Eiffel di Paris. Begitu indah, syahdu, tenang. Dengan hebat kuucap syukur karna Tuhan telah menghadiahkan Indra Penglihatanku atas hadirnya sungai Rhein yang hanya berjarak selemparan batu saja. “Mengalirlah, mengalir ikuti garis zaman. Rhein, keteguhan abadi. Pernahkah ia mengeluh tatkala terik? Pernahkah meradang tatkala beku? Pernahkah terbebani tatkala diarungi?“ penggalan deskripsi ayahku tentang keelokan sungai tersebut yang selalu kuingat hingga kini.
Esok hari, aku memulai kelas pertamaku sebagai orang asing. Terdapat 4 orang Indonesia termasuk aku, 2 orang asal Maroko, 4 orang asal Nigeria, 3 orang asal Arab Saudi, dan seorang asal Rusia. Tak terlalu berbeda sistem pendidikan disana kurasa. Hanya keaktifan sang pengajar (dosen) tidak sebegitu aktif bahkan cendrung cuek. Beberapa hari aku telah mengikuti proses belajar dan kurasa aku harus segera beradaptasi karna dari sudut kultur sangatlah berbeda dengan darimana diriku berasal. Mereka tidak mengedepankan suatu proses untuk menghasilkan sebuah jawaban, tapi sangat mengutamakan hasil tanpa perdulinya bagaimana proses mencari itu berasal. Bahasa Lokal sangat diutamakan tak perduli apa bahasa yang sudah dipatenkan secara internasional. Ramah tamahnya kultur kita tertutupi dengan angkuhnya kultur lokal.
Suhu menunjukan -200C, sangat amat teramat bagi mereka yang belum terbiasa merasakan suhu serendah itu. Sudah tak asing bila meyaksikan sweater mereka berlapis 5, bahkan kadang itu juga belum memenuhi untuk menutupi dinginnya iklim. Mungkin itu juga yang membuat sifat asli Jerman yang begitu dingin terhadap orang-orang asing.
Pernah suatu ketika, disaat aku berkumpul disebuah taman kota ada seorang bapak kisaran 40 tahun. Bertanya kepadaku,
Bapak Bule: “Wo bist du?” (darimana asalmu?)
Saya            : “Ich bin Indonesisch“ (saya orang Indonesia)
Bapak Bule : “ achso Indonesien, ich weiß nur Bali. Ob es ist die Hauptstadt von Indonesien?“
(oh Indonesia, aku hanya tau Bali. Apakah itu ibukota Indonesia?)

Sebegitukah populernya Bali? Sehingga internasional tidak cukup mengetahui negara kita? Sebegitukah asingnya negeri elok yang tersusun atas gugusan pulau terbanyak ini dimata dunia Internasional? Apakah kurangnya kita sebagai warga negara atau pemerintah dalam mengkampanyekan negeri kita dimata Internasional? Entahlah.


 Oleh : Fikar Hairiansyah