Ditengah doa yang teriring dan kalimat suci yang selalu dikumandangkan. Aku tetap dalam ruang sunyi walau ditengah keramaian yang seakan bermetamorfosa dalam kesendiriannya
Nuansa dahulu mustahil didapat dan dirasakan kembali. Nostalgia dengan kehangatan dengan kebersamaan yang menyatu dalam ikatan kokoh yang disebut keluarga
Mengingat setiap waktunya
Mengenang setiap masanya yang terpotret dalam album kenangan
Mengungkap hanya didalam benak tak mau lagi berucap banyak
Roman para pujangga kerap berteriak tentang kebahagiaan hidup sssssttt....kerap juga membisikan kesakitan hidup. Namun kali ini roman dalam bentuk yang nyata tanpa kamuflase ataupun torehan hal yang masih fiktif dirasakan
Suasana keseharian menjadi berbeda
Asing aku merasakannya
Gundah aku sering dibuatnya
Hanya mencapai klimaks saat sendiri dan merenungkan nasib apa yang hendak kucapai nantinya. Entah....
Meratapi hanya membuat hidup tertahan
Bertahan hanya membuat hidup tak bangkit
Apa yang perlu kulakukan?
Mengembalikan semuanya seperti sediakala.
Disaat ibu sibuk memasak air panas untuk mandi anak bungsunya
Atau ayah yang mengajarkan nilai kehidupan
Sedangkan kini anak bungsunya tertegun dalam kesendiriannya
Tak seperti dulu
Tak seindah dahulu
Seperti inikah hidupku kini? Mampukah menjalani?
Memanjakan diri kepada orangtua
Mengadukan persoalan kepada ayah ibu
Hanya nostalgia
Hanya nostalgia
Dan hanya nostalgia
Nostalgia bisa membuat kita bangkit atau semakin mengiris rasa tak menerima arti sebuah kehilangan
Anaknya sendiri dan tak ada yang mengayomi
Tak ada yang senantiasa membubuhkan tanda tangan dalam setiap berkas sekolah
Asing bagiku asing bagi kehidupanku saat ini
*
Pasangan terindah dan pasangan terabadi kini tersematkan dalam singgasana yang duduk diantaranya ibuku tercinta dan ayahku tersayang.
Aku mendoakan engkau disana sebagai ungkapan terimakasih yang tak terhingga bagi kalian yang mencatatkan sejarah bagi kehidupanku dimasalalu
Suara detik kian berdering dan hati kian berdetak
Namun hanya setitik harapan untuk bangkit dan mempertontonkan kepada ibu ayah tentang kesuksesan anaknya tentang kebahagiaan anaknya yang diimpikan semenjak 1 juli 1995 atau kelahiranku dimuka bumi yang cukup memilukan ini
Aku terlalu dini untuk menerima segenap kehilangan yang membekas dalam
Aku terlalu sendiri ditengah keramaian dan kehangatan keluarga dari temanku yang lain
Apabila Tuhan mempertanyakan apa yang paling aku inginkan didunia ini? Aku lekas menjawab...
"Aku hanya ingin keluargaku"
Aku hanya ingin hangatnya bersama beriringan dan takkan lekas berakhir
Sampai kapan pun...
Ibu ayah yang menjadi tumpuan hidup kini telah tiada
Hilang bersama keindahan kenangan yang ditorehkan
Aku bukan sosok yang melankolis atau pun kerap tergores hati nuraninya
Namun aku sosok yang teradaptasi dari nasib hidup yang membuatku semakin sendiri dan semakin asing dalam kesendiriannya
Ibu dan Ayah
Aku hantarkan doa yang tulus dan kekal yang senantiasa terucap dari lubuk sanubariku yang terdalam bahwa aku menyayangi kalian aku mencintai kalian aku menginginkan kalian bersama mengasuhku sedianya semasa ku kecil dahulu
Ibu dan Ayah
Aku menginginkan Tuhan menyayangi kalian seperti kalian yang senantiasa menyayangiku semasa kecil belia.
"Rabbigfirli Wali wali daya warhamhuma kamaa rabbayani shagiraa"
Dariku yang menginginkan kalian kembali memelukku dan menciumku dalam kehangatan indahnya keluarga yang utuh
Untukmu pelitaku
Alm. Iskandar M Zen (14/12/1934 - 23/5/2016)
Almh. Titim Fatimah (2/1/1952 - 8/12/2010)
.