Senja terlalu manja dimalam ini
Bersandar pada dekapan yang begitu erat
Terkunci dalam kesunyian yang semakin merenta
Gelisah yang berubah menjadi gusar
Hanya renungan yang menunjukkan arah
Bukan arah menuju ketabuan
Tapi arah yang menghantarkan pada sosok yang menyenangkan
Jumpa dengan sang malam,
Selimut menjadi sahabat terbaik saat menggigil
Air menjadi jawaban atas dahaga yang menyerang
Rindu yang menjadi pusaran kekuatan
Bangkit dalam keheningan yang semakin sendu
Entahlah...
Melankolis...
Malam ini terlalu puitis dari malam malam sebelumnya
Keyakinan terlahir dari nalar dan nurani
Kegundahan yang semakin terkikis
Kerasnya batu pun akan termakan zaman
Malam yang sendu
Malam yang semakin merintih
Menginginkan berada pada peraduan
Tanpa adanya potret semu
Selasa, 31 Maret 2015
Minggu, 29 Maret 2015
Mendatangi Keniscayaan
Pernahkah engkau bertanya pada sang malam?
Malam yang menelisik malu tanpa berbisik
Suara bergemuruh, bising dan hanya membutakan lisan
Lahirnya insan ke dunia dari rasa cinta yang hakiki
Dunia yang meluluhkan rasa segan, rasa enggan, rasa mencintai dan rasa mengayomi
Setitik cahaya malu bersinar
Nampak sedikit demi sedikit lahir ke permukaan
Bola mata sesungguhnya dekat dengan penglihatannya
Hidung pun begitu dekat dengan penciuman
Mulut yang berdekatan tutur kata
Tapi nurani tak sama
Tak begitu bringas seperti tuan pada budak
Tak begitu kejam seperti ibu tiri dalam cerita fiksi
Pesan yang tak pernah tersampaikan
Bahkan tak pernah terpikirkan
Dunia fana ini bukan ajang eliminasi
Bukan juga saling menuding
Bukan juga menunggu keniscayaan
Tapi menjemput keniscayaan dari lorong yang amat tak terpandang
Malam yang menelisik malu tanpa berbisik
Suara bergemuruh, bising dan hanya membutakan lisan
Lahirnya insan ke dunia dari rasa cinta yang hakiki
Dunia yang fana...Dunia yang hanya meninabobokan rasa hormat
Dunia yang meluluhkan rasa segan, rasa enggan, rasa mencintai dan rasa mengayomi
Setitik cahaya malu bersinar
Nampak sedikit demi sedikit lahir ke permukaan
Bola mata sesungguhnya dekat dengan penglihatannya
Hidung pun begitu dekat dengan penciuman
Mulut yang berdekatan tutur kata
Tapi nurani tak sama
Tak begitu bringas seperti tuan pada budak
Tak begitu kejam seperti ibu tiri dalam cerita fiksi
Pesan yang tak pernah tersampaikan
Bahkan tak pernah terpikirkan
Hanyalah keniscayaan...Malu pasti tertunduk dan angkuh pasti menegakkan lebih
Dunia fana ini bukan ajang eliminasi
Bukan juga saling menuding
Bukan juga menunggu keniscayaan
Tapi menjemput keniscayaan dari lorong yang amat tak terpandang
Jangan berteriak dalam diam karena nurani tak mampu menjangkau...
Langganan:
Postingan (Atom)