Rabu, 13 Februari 2019

Takdir Rasa

Memang sudah digariskan, bahwa semua kebahagiaan yang ku miliki pasti lambat laun pergi.

Awal menyadarinya memang begitu pedih, terlebih saat merasa sendiri begitu sangat membekas dan hampir mustahil bisa dilalui.

Ku memang ditakdirkan untuk sendiri dan tak diizinkan untuk mengecap nikmatnya kebahagiaan yang utuh dan kekal.
Semuanya hanya singgah sebentar saja.

Datang seolah menjanjikan keabadian, tapi yang nampak dan terasa hanya persinggahan sesaat.
Memang, ku terlahir akan menjadi orang yang sepi dan sendiri saja. Itu yang pasti abadi.

Karena aku tak mungkin berkhianat atas rasa. 
Tak mungkin pula menyanggah ketulusannya.
Pengharapan atas semua yang indah hanya dongeng yang tertutur dalam cerita yang usang.

Kini atau selamanya akan menderita rindu.
Kini atau selamanya akan menderita kesendirian yang kekal bersama rasa yang tak pernah terkikis sedikitpun.

Adakah cahaya yang akan menghiasi, tak ada. Sudah pasti takkan pernah ada.

Kebahagiaanku kini adalah rasa dan diriku sendiri.

Hanya Rasa, Tak Lebih!

tiada yang bisa menggantikan mereka.
kenapa ada takdir hidup dan mati? 
gara-gara takdir itu, saya jadi tidak memiliki kebahagiaan dan nikmatnya dicinta dengan tulus sepanjang waktu.

cinta ku kini selamanya takkan menemukan tuannya. 
itulah mengapa kita harus memaknai, memahami dan menikmati rasa cinta, walau kadang dimulai dari sesuatu yang kecil.

bila sudah tiada, takkan ada lagi rasa yang sama bahkan muncul kerinduan yang begitu amat mendalam.

namun, kini ku harus meyakini kalau cinta ibu dan ayah adalah cinta yang abadi, walau memang rasa pedihnya ditinggalkanpun masih mengiringi dan masih begitu terasa. love!

Senin, 14 Januari 2019

Mereka, Dusta dan Kesedihan

Kata siapa aku sendiri?
Kata siapa juga aku bisa mati dalam kesendirian? 
Sangat tidak mungkin! 

Aku, anak paling kecil yang cukup tangguh hidup dalam kesendirian. 
Tangguh pula dengan memikul hidup dengan kesendirian. 
Cukup tangguh juga untuk menentukan arah hidup sendirian. 

Orangtuamu mana? 
Mereka tetap kekal dengan kasihnya, mereka tetap kekal dengan cintanya, mereka tetap kekal dengan belaiannya. Untuk siapa? dipersembahkan hanya untuk anaknya yang paling kecil,  yang begitu sombongnya ingin memikul hidup sendirian. 

Amat berdosa, si anak hanya memikirkan dirinya sendiri. Orangtuanya tak lagi ia pikirkan, padahal mereka lah yang sangat ingin berjumpa dengan si anak. Anak durhaka? 

Lalu si anak meringis, bersedih tiba-tiba. 
Mengapa kau begitu bersedih? 
Hapus air matamu! 
Mana ketangguhanmu yang membuat hidupmu begitu amat berani dalam kesendirian? 

Si anak dengan bibir yang bergetar, ia mengatakan: 'aku rindu, aku ingin bertemu, aku ingin bersama, aku tak mau sendirian' 

Bukankah engkau sangat amat tangguh menyendiri? Orangtuamu tak kau pikirkan, tak kau pedulikan? 

Si anak lanjut berkata, 'aku hanya tak ingin larut dalam kesedihan, aku tak ingin ibu dan ayahku melihatku terus bersedih. Aku pun tak ingin menjadi anak yang terlihat sedih ditinggal pergi untuk selamanya. Lebih baik aku menyibukkan diri untuk lari dari kesedihan dan kepedihan. Kesendirian, adalah teman terbaikku kini.' 

Lalu mengapa begitu bersedih? Kau katanya tak ingin bersedih. 

Si anak berucap perlahan, 'izinkan aku bersedih untuk beberapa saat, setidaknya untuk mengobati rasa rindu kepada ibu dan ayah. setelah itu, aku akan memakai kebohonganku lagi untuk tersenyum dalam kesendirianku'.