Senin, 28 Maret 2016

Sepenggal Mozaik di Ranah Panzer


Hari itu, 11 Januari 2013 aku berhasil menapaki salah satu Negeri penuh emosi, keangkuhan, dan bernasionalis tinggi. Begitu dingin ternyata Jerman, sangat jauh berbeda dengan di negeri khatulistiwa. Butiran salju yang menyerupa bentuk daun ganja senantiasa berterbangan seakan menyambutku dengan penuh sukacita. Senang, bahagia, haru berselimut air. Tidak pernah terbersit suatu cita aku akan berada disini.
Ini pertama aku hidup dengan makna ‘Perantau‘. Jauh dari orang tua, sikap memilah harus dikedepankan, dan mindset mandiri mesti dipatok didalam otak. Dan penggalan lirik Iwan Fals sangat mengena “engkau lelaki, kelak sendiri“. Esok hari aku mendaftar sebagai pelajar Indonesia yang berdomisili di Jerman.
Seminggu setelah berkenalan dengan kota Berlin, aku melangkahkan kaki untuk menjalani masa Pra Kuliah yaitu Studienkolleg. Ini semacam matrikulasi untuk penyetaraan lama pendidikan karena di Jerman wajib pendidikan minimal 13 tahun. Bonn, kota penuh sejarah, eksotis, nyaman bagi para musisi classic berasal. Sebut saja Ludwig van Beethoven, Bonn ialah kota kelahirannya. Tak jarang banyak sekali yang ingin menempuh pendidikan dengan kategori music disana. Dan juga salah satu markas besar dunia jurnalistik Jerman berada Deutsche Welle (DW TV).
Pukul 09,00 waktu Jerman aku bersiap untuk menuju Bonn menggunakan salah satu alat transportasi terbaik Jerman Inter City Express (ICE). Serupa Shinkansen kereta api tercepat yang ada di dunia sekarang. Perlahan Berlin mulai kutinggalkan dengan syahdu tanpa berkenalan lebih jauh. Hiruk pikuk ibukota sangat jelas terlihat dengan hadirnya mobilitas tinggi dipusat-pusat kota. Hamparan savana yang telah terlapisi salju mulai terlihat. Begitu tebalnya menyelimuti savana yang sangat hijau ketika summer hadir. Kiranya 9 jam perjalanan yang ditempuh untuk mencapai Bonn.
Bonn, kota indah ditepi sungai Rhein. Sungai impianku bersama ayahku yang kala itu pernah mengikrarkan janji untuk menapaki bersama. Layaknya sungai Seine yang berhadapan langsung dengan menara Eiffel di Paris. Begitu indah, syahdu, tenang. Dengan hebat kuucap syukur karna Tuhan telah menghadiahkan Indra Penglihatanku atas hadirnya sungai Rhein yang hanya berjarak selemparan batu saja. “Mengalirlah, mengalir ikuti garis zaman. Rhein, keteguhan abadi. Pernahkah ia mengeluh tatkala terik? Pernahkah meradang tatkala beku? Pernahkah terbebani tatkala diarungi?“ penggalan deskripsi ayahku tentang keelokan sungai tersebut yang selalu kuingat hingga kini.
Esok hari, aku memulai kelas pertamaku sebagai orang asing. Terdapat 4 orang Indonesia termasuk aku, 2 orang asal Maroko, 4 orang asal Nigeria, 3 orang asal Arab Saudi, dan seorang asal Rusia. Tak terlalu berbeda sistem pendidikan disana kurasa. Hanya keaktifan sang pengajar (dosen) tidak sebegitu aktif bahkan cendrung cuek. Beberapa hari aku telah mengikuti proses belajar dan kurasa aku harus segera beradaptasi karna dari sudut kultur sangatlah berbeda dengan darimana diriku berasal. Mereka tidak mengedepankan suatu proses untuk menghasilkan sebuah jawaban, tapi sangat mengutamakan hasil tanpa perdulinya bagaimana proses mencari itu berasal. Bahasa Lokal sangat diutamakan tak perduli apa bahasa yang sudah dipatenkan secara internasional. Ramah tamahnya kultur kita tertutupi dengan angkuhnya kultur lokal.
Suhu menunjukan -200C, sangat amat teramat bagi mereka yang belum terbiasa merasakan suhu serendah itu. Sudah tak asing bila meyaksikan sweater mereka berlapis 5, bahkan kadang itu juga belum memenuhi untuk menutupi dinginnya iklim. Mungkin itu juga yang membuat sifat asli Jerman yang begitu dingin terhadap orang-orang asing.
Pernah suatu ketika, disaat aku berkumpul disebuah taman kota ada seorang bapak kisaran 40 tahun. Bertanya kepadaku,
Bapak Bule: “Wo bist du?” (darimana asalmu?)
Saya            : “Ich bin Indonesisch“ (saya orang Indonesia)
Bapak Bule : “ achso Indonesien, ich weiß nur Bali. Ob es ist die Hauptstadt von Indonesien?“
(oh Indonesia, aku hanya tau Bali. Apakah itu ibukota Indonesia?)

Sebegitukah populernya Bali? Sehingga internasional tidak cukup mengetahui negara kita? Sebegitukah asingnya negeri elok yang tersusun atas gugusan pulau terbanyak ini dimata dunia Internasional? Apakah kurangnya kita sebagai warga negara atau pemerintah dalam mengkampanyekan negeri kita dimata Internasional? Entahlah.


 Oleh : Fikar Hairiansyah