Senin, 06 April 2015

Syukur dalam Hening

Pejamkan mata dengan hati yang damai
Tangan yang mengelus lalu semakin sendu
Nadi yang berdenyut beriringan
Tertunduk malu dan enggan untuk berucap

Sesekali tidurlah dini hari
Agar bisa merasa nikmatnya tertidur
Sesekali rasakan lah lapar
Agar merasa nikmat saat makan yang lahap

Ia menerawang, menerobos persembunyian
Ruang gelap dan amat kosong…mengerikan !
Damainya telah hilang dan tak tentu kembali
Terlalu silau menerpa cahaya
Terlalu bergemuruh diselimuti ombak
Ombak pun dapat mencabik dan menenggelamkan makhluk

Orangtua renta duduk di pesisir nan indah
Berharap senja mampu menyelamatkan
Matahari pun perlahan tenggelam dan melahirkan bulan
Cahaya bulan tak mampu menyainginya
Ritme klasik berdengung
Mencair dalam ingatan
Seketika luka pun terbuka dan membakar
  
Bukan sekadar primbon yang memberi prediksi
Bukan pula anyaman yang selalu bergelombang
Bukan juga haci dengan kesendiriannya

Bukankah yang terjadi begitu terpendam?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar