Hari itu, 11 Januari 2013
aku berhasil menapaki salah satu Negeri penuh emosi, keangkuhan, dan
bernasionalis tinggi. Begitu dingin ternyata Jerman, sangat jauh berbeda
dengan di negeri khatulistiwa. Butiran salju yang menyerupa bentuk daun ganja
senantiasa berterbangan seakan menyambutku dengan penuh sukacita. Senang,
bahagia, haru berselimut air. Tidak pernah terbersit suatu cita aku akan berada
disini.
Ini pertama aku hidup dengan makna ‘Perantau‘. Jauh dari orang tua, sikap
memilah harus dikedepankan, dan mindset mandiri mesti dipatok didalam otak. Dan
penggalan lirik Iwan Fals sangat mengena “engkau lelaki, kelak sendiri“. Esok
hari aku mendaftar sebagai pelajar Indonesia yang berdomisili di Jerman.
Seminggu setelah berkenalan dengan kota Berlin, aku melangkahkan kaki untuk
menjalani masa Pra Kuliah yaitu Studienkolleg. Ini semacam matrikulasi untuk
penyetaraan lama pendidikan karena di Jerman wajib pendidikan minimal 13 tahun.
Bonn, kota penuh
sejarah, eksotis, nyaman bagi para musisi classic berasal. Sebut saja Ludwig
van Beethoven, Bonn ialah kota kelahirannya. Tak jarang banyak sekali yang
ingin menempuh pendidikan dengan kategori music disana. Dan juga salah
satu markas besar dunia jurnalistik Jerman berada Deutsche Welle (DW TV).
Pukul 09,00 waktu Jerman aku bersiap untuk menuju Bonn menggunakan salah
satu alat transportasi terbaik Jerman Inter City Express (ICE). Serupa
Shinkansen kereta api tercepat yang ada di dunia sekarang. Perlahan Berlin
mulai kutinggalkan dengan syahdu tanpa berkenalan lebih jauh. Hiruk pikuk
ibukota sangat jelas terlihat dengan hadirnya mobilitas tinggi dipusat-pusat
kota. Hamparan savana yang telah terlapisi salju mulai terlihat. Begitu tebalnya menyelimuti savana
yang sangat hijau ketika summer hadir. Kiranya 9 jam perjalanan yang ditempuh
untuk mencapai Bonn.
Bonn, kota indah ditepi sungai Rhein. Sungai impianku bersama ayahku yang
kala itu pernah mengikrarkan janji untuk menapaki bersama. Layaknya sungai
Seine yang berhadapan langsung dengan menara Eiffel di Paris. Begitu indah,
syahdu, tenang. Dengan hebat kuucap syukur karna Tuhan telah menghadiahkan
Indra Penglihatanku atas hadirnya sungai Rhein yang hanya berjarak selemparan
batu saja. “Mengalirlah, mengalir ikuti garis zaman. Rhein, keteguhan abadi. Pernahkah
ia mengeluh tatkala terik? Pernahkah meradang tatkala beku? Pernahkah terbebani
tatkala diarungi?“ penggalan deskripsi ayahku tentang
keelokan sungai tersebut yang selalu kuingat hingga kini.
Esok hari, aku memulai kelas
pertamaku sebagai orang asing. Terdapat 4 orang Indonesia termasuk aku, 2 orang
asal Maroko, 4 orang asal Nigeria, 3 orang asal Arab Saudi, dan seorang asal
Rusia. Tak terlalu berbeda sistem pendidikan disana kurasa. Hanya keaktifan
sang pengajar (dosen) tidak sebegitu aktif bahkan cendrung cuek. Beberapa
hari aku telah mengikuti proses belajar dan kurasa aku harus segera beradaptasi
karna dari sudut kultur sangatlah berbeda dengan darimana diriku berasal. Mereka
tidak mengedepankan suatu proses untuk menghasilkan sebuah jawaban, tapi sangat
mengutamakan hasil tanpa perdulinya bagaimana proses mencari itu berasal.
Bahasa Lokal sangat diutamakan tak perduli apa bahasa yang sudah dipatenkan
secara internasional. Ramah tamahnya kultur kita tertutupi dengan angkuhnya
kultur lokal.
Suhu menunjukan -200C, sangat amat teramat bagi mereka yang
belum terbiasa merasakan suhu serendah itu. Sudah tak asing bila meyaksikan
sweater mereka berlapis 5, bahkan kadang itu juga belum memenuhi untuk menutupi
dinginnya iklim. Mungkin
itu juga yang membuat sifat asli Jerman yang begitu dingin terhadap orang-orang
asing.
Pernah suatu ketika, disaat
aku berkumpul disebuah taman kota ada seorang bapak kisaran 40 tahun. Bertanya
kepadaku,
Bapak Bule: “Wo bist du?” (darimana asalmu?)
Saya : “Ich bin Indonesisch“ (saya orang
Indonesia)
Bapak Bule : “ achso Indonesien, ich weiß nur Bali. Ob es ist die
Hauptstadt von Indonesien?“
(oh Indonesia, aku
hanya tau Bali. Apakah itu ibukota Indonesia?)
Sebegitukah
populernya Bali? Sehingga internasional tidak cukup mengetahui negara kita?
Sebegitukah asingnya negeri elok yang tersusun atas gugusan pulau terbanyak ini
dimata dunia Internasional? Apakah kurangnya kita sebagai warga negara atau
pemerintah dalam mengkampanyekan negeri kita dimata Internasional? Entahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar