Jumat, 28 Juni 2013

Demoralisasi Kaum Intelektual


Generasi muda adalah manusia unggul yang sedang berada pada periode emas masa hidupnya.  Mahasiswa sebagai salah satu elemen bangsa yang memiliki peran penting terhadap lajur perubahan peradaban. Mahasiswa juga bertindak sebagai Agent of change dari bentuk interpretasi terhadap persoalan – persoalan sosial. Mereka memiliki totalitas dalam penyampaian gagasan konstruktif dan segar bagi kemajuan bangsa ini.
Kaum intelektual yang diposisikan sebagai pewaris tunggal bangsa ini mengalami pergeseran fungsi yang drastis. Tidak lagi menjadi garda terdepan untuk senantiasa andil dalam perubahan peradaban, tapi kini mengalami pergeseran dengan munculnya budaya baru dikalangan kaum intelektual.
Potret hitam moralitas kaum intelektual ditandai oleh fenomena yang terjadi dimasa ini seperti tawuran,  premanisme, narkoba, minuman keras hingga seks bebas menjadi budaya baru di kalangan kaum intelektual. Tentunya fenomena ini terjadi karena kurangnya filterisasi yang berdampak pada rusaknya dunia pendidikan, sosial kemasyarakatan dan nilai-nilai spiritual. Perilaku munkar yang terjadi sebagai bukti degradasi moral secara besar-besaran di kalangan kaum intelektual.
Telah terjadi sebuah pergeseran nilai-nilai hakiki dari sebagian mahasiswa dari menuntut ilmu dan menciptakan karya menjadi menikmati hidup dan menikmati karya. Dengan kata lain tidak optimalnya internalisasi Tridharma Perguruan Tinggi dikalangan mahasiswa.
Kepekaan mahasiswa terhadap suatu permasalahan dinilai baik untuk mengawasi kinerja pemerintah. Dan sebagai bentuk penyampaian aspirasi, mahasiswa kerap melakukan aksi demonstrasi yang menuntut, menolak atau membatalkan kebijakan pemerintah.  Akan tetapi sangat disayangkan bentuk dari demonstrasi kadang lebih mengarah ke kericuhan.
Dipandang secara moralitas, kericuhan merupakan bentuk kekerasan yang menimbulkan perpecahan. Demonstrasi awalnya memang untuk penyampaian aspirasi akan tetapi langkah yang dilakukan membuat malapetaka bagi demonstran dan meresahkan masyarakat. Kadang kala demonstrasi mengatasnamakan demokrasi hak asasi manusia, akan tetapi langkah yang dilakukan jauh dari konsep sejatinya.
Alhasil, mahasiswa tidak lagi menciptakan karya dan bertindak sebagai problem solver dari permasalahan yang berkembang. Dan sejatinya mahasiswa harus memiliki moral tinggi, kreativitas, dan peka terhadap permasalahan yang berkembang. Bentuk pemecahan masalahnya pun dengan tindakan yang nyata dan langsung sebagai bukti pengabdian kepada masyarakat serta berperan untuk mengatasi tantangan yang berguna bagi masyarakat.
Kekosongan moralitas kaum intelektual menjadikan mereka mudah terpicu dan terprovokasi untuk melakukan tindakan yang tak bermoral. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan harus dihentikan. Solusi dari potret degradasi moral yang melanda kaum intelektual harus adanya perbaikan kondisi sosial, penyaringan budaya dilingkungan mahasiswa. Selain itu, harus adanya peningkatan kualitas diri mahasiswa dan penataan sistem social yang harus berfungsi secara positif dan optimal.

Semua komponen bangsa mempunyai tanggung jawab penuh dan berkewajiban untuk mencegah mahasiswa agar tidak terjerumus ke dalam lembah hitam kekosongan nilai moral dan spiritual. Jika tidak ada kerjasama dari seluruh komponen bangsa untuk menyelesaikan persoalan ini, maka masa depan bangsa pun akan menjadi buih di lautan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar