Senin, 18 September 2017

Berikan Kesempatan Masyarakat Mengenal Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Media massa ialah kiblat nyata bagi masyarakat yang haus akan informasi. Terlebih, era digital yang kini menerpa negeri semakin memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Rasanya perlu merenungkan, bagi para pegiat media massa yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik bahwa tugas lainnya ialah membentuk karakter masyarakat melalui tulisan. Karya insan media bukan hanya menjadi tuntutan redaksi, namun menjadi ujung tombak dari degradasi maupun upaya mencerdaskan bangsa melalui tinta yang ditorehkan.

Apa tanggungjawab diatas terlalu hiperbola? Tentu rasanya begitu bila hanya dibaca sekilas. Namun, saat direnungkan rasa-rasanya perlu turut andil dalam menghiasi dunia jurnalistik dengan tulisan atau bahasa yang sehat dan layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Dikala semakin mudahnya akses informasi melalui media online dengan sekali klik langsung terbuka jendela informasi, perlu disadari bahwa gerbang ini sesekali harus mendapat penyadaran dari kalangan masyarakat ataupun ahli dibidang ilmu komunikasi massa. Karenanya, media online memiliki andil dalam perubahan karakter masyarakat yang selalu mengonsumsi berita boombastis yang hanya mengedepankan 'viewers'.

Tak adil rasanya bila media online yang kini menjadi medium utama dalam mendapatkan informasi bagi masyarakat disusupi penggunaan frasa, kata, kalimat dan bahasa yang 'nyeleneh' yang didasarkan pada menarik perhatian pembacanya walau tak sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Tren terkini media online yang lahir sebagai media massa  terbarukan memberikan kontribusi degradasi cukup besar terhadap kualitas produk jurnalistik. Asumsinya, walau dari kecepatan media online lebih unggul, namun segi nilai akurat dan faktualnya menjadi nomor dua bahkan menjadi nomor yang terbelakang. Utamanya, boombastis dan menyita paksa perhatian para pembacanya.

Adilkah?

Apabila dicermati bahwa pemberitaan media online memiliki kekurangan dari tidak komprehensifnya penyajian informasinya. Dari kekurangan tersebut, bahkan 'banyak' media online yang menambah catatan kepiluan media online dengan menghadirkan bubuhan kata, kalimat dan ungkapan yang menodai kaidah kebahasaan dan jurnalistik.

Ingin terlihat aneh dan boombastis dengan harapan banyak viewers yang meningkat pada ranking website di alexa.com maupun google analytic.

Rahasia umum bila dulu ada ungkapan media massa yang bergerak didunia penyiaran mengejar rating dan share, rasanya penyakit ini bergerak menjangkit media online yang lebih memprioritaskan viewers dibandingkan penggunaan diksi yang tepat dan sesuai dengan kaidah yang sudah ditentukan.

Sita perhatian masyarakat agar mengklik beritanya, namun secara psikologis, media online mengajarkan masyarakat untuk terbiasa dengan bahasa yang 'nyeleneh' bahkan tidak elok dibaca. (Catatannya bila pembacanya tahu mengenai tugas dan kaidah ilmu jurnalistik tentu akan terasa sakit matanya saat membaca berita dengan kebahasaan yang aneh).

Mengedepankan literasi media kepada masyarakat bukan hanya bertepuk sebelah tangan yang memaksa masyarakat cerdas untuk menyantap pemberitaan. Namun, para pegiat media massa pun harus memiliki kecerdasan dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya untuk senantiasa menghidupkan optimisme bahwa bahasa indonesia baik dan benar merupakan hal yang utama bagi konten media massa.

Dalam ilmu jurnalistik, dikenal dengan istilah gatekeeper yang menjadi penjaga gawang ataupun individu yang memiliki tanggungjawab menyunting, menyeleksi dan menyiarkan pemberitaan. Ditengah literasi media yang kian digaungkan, gatekeeper media pun memiliki tanggungjawab besar yang bukan hanya terkait dengan isi pemberitaan yang faktual dan cover both side, namun dari unsur kebahasaan yang perlu dijaga dan diselamatkan agar pembaca senantiasa terbiasa dengan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Istilah terdahulu dikenal 'tontonan akan menjadi tuntunan bahkan tuntutan' inipun bahkan sudah menjangkit media online yang semakin gencar saling mendahului untuk penyajian pemberitaan yang boombasti namun kaidah jurnalistik dilupakan bahkan tercecer dibawah meja redaksi.

Selamatkan masyarakat dari penggunaan bahasa yang tidak elok, agar masyarakat terbiasa dan bisa sempat mengenal bahasa indonesia yang baik dan benar melalui media massa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar