Aku punya dunia sendiri yang
bergulat dengan dunia kewartawanan, bahkan semua orang pasti mempunyai focus
tersendiri, apakah itu entrepreneurship, photography, penulis atau apapun.
Entah pemikiran gila apa yang
melanda diriku saat ini.
Semasa SLTA aku berkeinginan
untuk menjadi mahasiswa di Universitas terbaik dan aku sempat berusaha mencapai
langkah tersebut, tapi seperti ada tourguide yang menuntun langkahku dalam arahan – arahan menuju dunia jurnalistik di IISIP
Jakarta.
Tak pernah terbersit dalam laraku
untuk menjadi wartawan, photographer, camera person, news reader atau apapun.
Yang kuinginkan dulu hanya kepada ambisi yang membara sebagai Mahasiswa sastra,
tapi stagnan karena ada tourguide yang sedikit membuatku berbelok dunia
komunikasi.
Sekarang aku menduduki tahun
kedua perkuliahan di bidang jurnalistik. Tapia ada sebuah keberuntungan yang
luarbiasa, tapi bukan karena mendapat uang kaget atau apalah itu. Tapi aku
dianugerahkan menjadi reporter/wartawan disalah satu media online yang sedang
massa perkembangan. Lantas apa yang ku pikirkan dulu untuk menjadi wartawan
sangat sulit apalagi mengimplementasikan teori sang founding father IISIP/
STP/ STD Hoeta Soehoet tentang Jurnalistik.
Sekilas saya berbangga menjadi
bagian dari wartawan secara nyata dan menjadi mahasiswa yang menyandang
predikat khusus sebagai wartawan. Kebanggaan ini tapi tak berjalan lama, empat
bulan massa diriku ini menjadi wartawan dan belenggu birokrasi media dan kadang
berbenturan dengan idealism yang senantiasa aku junjung tinggi. Lantas takkan
pernah usai apabila terus dlam belenggu pikiran yang bisa seperti ini. Aku pun
sempat merenung di kamar kost yang mempunyai luas 4 x 4 meter, tapi bukan luas
kamar yang menentukan arah pikiranku, tapi ada sinar yang menginspirasiku untuk
menulis segala hal yang ada dibenakku walaupun aku sukar untuk membuatnya
seolah – olah menjadi yang spektakuler tapi ku sebut ini karya yang luarbiasa.
Episode #1
Bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar