Rabu, 23 Oktober 2013

Kata Asing, Akronim dan Penghematan Melalui Ejaan

Kata-Kata Asing
Dr. Soedjatmoko dan peserta Kongres Bahasa menyinggung segala kegemaran orang Indonesia menggunakan kata-kata asing, istimewa kata Inggris, di dalam percakapan dan tulisan, sehingga dalam keputusannya kongres meminta perhatian khusus supaya kata-kata Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga dalam menggunakan bahasa jurnalistik kita selalu ingat supaya berhemat dengan kata-kata asing, dahulukan penggunaan kata-kata bahasa sendiri, sebab bahasa jurnalistik harus bahasa yang mudah dipahami oleh sebagian besar rakyat, maka wartawan harus berusaha berhemat dengan kata-kata asing.
Dalam penulisan berita olahraga terdapat istilah-istilah tertentu yang khusus terikat kapada sesuatu cabang olahraga. Dunia sepak bola punya istilah-istilahnya sendiri, begitu juga dunia bulu tangkis, atletik, dan sebagainya. Wartawan tidak dapat seluruhnya menggalakkan apa yang dinamakan sports language atau bahasa olahraga. Tetapi pembaca biasa tidak selalu mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata asing itu. Oleh karena itu wartawan olahraga hendaknya berusaha menciptakan kata-kata yang lebih mudah dimengerti, yang diambil dari bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Contoh:
Gol Pablo Osvaldo pada injury time ke gawang Fiorentina membuat AS Roma meramaikan persaingan memperebutkan tiket Liga Champions.
Yang benar:
Gol Pablo Osvaldo pada tambahan waktu ke gawang Fiorentina membuat AS Roma meramaikan persaingan memperebutkan tiket Liga Champions.



Akronim
Akronim (bahasa Inggris: acronym) ialah singkatan yang dibentuk dari huruf-huruf kata uraian. Ada 4 macam akronim, antara lain:
1.       Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf capital. Contoh: DPR. Muka lama di DPR mencalonkan lagi.
2.       Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf capital. Contoh: Kapolri. 9 jenderal ramaikan bursa calon Kapolri.
3.       Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf suku kata atau pun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Contoh: gepeng (gelandangan dan pengemis). Menjelang perayaan Idul Fitri Satpol PP kembali menjaring gepeng di sejumlah lokasi di Jakarta.
4.       Singkatan nama gelar. Contoh: Dr. Yus Badudu dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan.

Dalam bahasa Indonesia jurnalistik para wartawan diminta sejauh mungkin menghindari akronim, kalau pun terpaksa janganlah lupa menuliskan kepanjangan serta makna akronim tersebut. Akronim memang mempunyai manfaat untuk: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Akan tetapi, bila kita terlalu sering dan semena-mena membuat akronim akan menyusahkan pembaca. Bahasa jurnalistik menghindari hal itu.

  
Penghematan Melalui Ejaan
William L. Rivers dalam bukunya “The Mass Media – Reporting, Writing Editing” (1964) bercerita tentang pekerjaan copy editor atau editor naskah. Orang ini berada di antara pewarta (reporter) dengan pembaca. Tugas utamanya adalah:
a.       Membenarkan kesalahan-kesalahan tata bahasa (gramatika), ejaan, dan gaya bahasa (style)
b.      Membenarkan kekeliruan-kekeliruan fakta
c.       Mempertimbangan nilai berita
d.      Dengan cepat menyunting (editing) naskah yang mengandung banyak kembang kata sehingga menjadi ringkas dan langsung.
Setiap surat kabar paling tidak mempunyai wartawan yang bekerja di meja redaksi yang tugasnya antara lain memeriksa dan membenarkan naskah yang disampaikan oleh wartawan dan wartawan tersebut harus berpegang kepada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
Soal ejaan perlu sekali diperhatikan oleh wartawan, karena kalau salah menuliskannya, maka pembaca akan mengikutinya. Berbagai kesalahan masih dilakukan, tetapi yang agak banyak tercatat ialah merangkaikan kata depan di, ke, dan dari. Padahal menurut ejaan baru kata depan di, ke, dan dari mesti terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Buku Pedoman Umum Ejaan memberikan contoh sebagai berikut:
·         Puluhan kades di Lebak batal nyaleg
·         Israel lakukan serangan udara lagi ke Suriah
  • Menurut Boni Hargens, dari jumlah kursi yang diraih PKS pada pemilu 2009 sebanyak 57 orang dan semuanya kembali mencalonkan diri pada pemilu 2014
Memilih ejaan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia memang memerlukan sedikit kejelian. Pasalnya, bahasa Indonesia banyak mempunyai bentuk kembar seperti risiko-resiko, Senin-Senen, sekadar-sekedar. Bentuk kembar terjadi karena ada penyimpangan dari bentuk baku yang dipengaruhi bahasa daerah. Penyimpangan bahasa baku itu, menurut Anton M. Moeliono (1985:106), memiliki pola, antara lain:
a.       i menjadi  e. Kemarin-kemaren; a menjadi e. Ambilkan-ambilken; u menjadi o. Belum-belom;
b.      f atau v menjadi p. film-pilem dan variasi-pariasi; kh menjadi k atau h. akhir-akir-ahir; sy menjadi s. masyarakat-masarakat; z menjadi j. zaman-jaman;
c.       i+e  menjadi i. karier-karir; o+o menjadi o; koordinasi-kordinasi;
d.      –ps menjadi –p. elips-elip; -ks menjadi –k. kompleks-komplek; -ksk- menjadi –sk-. ekskavasi-eskavasi; str- menjadi setr-. Struktur-setruktur; ai menjadi e. ramai-rame; au menjadi o. pulau-pulo;
s menjadi z. asas-azas; p menjadi f. pihak-fihak;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar