Sinar
matahari yang mulai terbenam meninggalkan cerahnya siang hari, awan berkabut
muncul untuk menghiasi malam sunyi. Cahaya bulan bersinar terang. Sinarnya
menyusupi ruang ruang rumah melalui dinding bilik yang menjadi penyelimut
rumah.di depan rumah terlihat sebuah pelataran kebun yang ditanami berbagai
buah dan sayuran, dan di pinggirnya sebuah hutan yang selalu memberikan sumber
kehidupan sehari hari. Serta sebuah kolam dibelakang rumah yang dipenuhi ikan
berwana merah dan berbagai macam mainan kapal.
1997,….
Tepatnya 18 april pukul 18.08 di kamar tidur…..
“aduh
aduhhh……” teriak seorang ibu bernama desi yang hamil dan di tinggal sang
suaminya segingga dia harus menumpang dirumah yuyun seorang sahabanya sejak
dari dulu.
“sepertinya bayinya sudah mau keluar” terucap dari seorang lelaki bernama nadi suami dari yuyun.
“wahhh … bayinya sudah mau keluar,” teriak istri nadi yang cukup kaget. “cepat panggilkan dukun beranak”
Nadi segera
pergi berusaha mencari dukun beranak , di tengah hujan dengan keadaan basah
kuyup dan jalanan yang penuh lumpur serta gelap. Tetapi hal tersebut tidak
mematahkan semangat Nadi untuk mencari dukun beranak, setelah beberapa menit
berjalan ia menemukan sebuah gubuk lalu dilihatnya seorang nenek nenek yang tua
yang duduk di atas kayu depan gubuk tersebut.
“hey anak
muda ? kenapa berdiri disitu ? kemarilah disana dingin dengan cuaca hujan seperti ini.” Ucap nenek tersebut.
Nadi
mendekati si nenek dengan mata yang tertuju pada bagian rambutnya yang beruban
dan berwarna putih semua. “ kira-kira berapa ya umurnya” pikirnya dalam hati
sambil tersenyum.
“mau kemana
kamu nak ?” tanya si nenek itu „ “apa nenek bis membantu ?”
“Aku lagi
mencari dukun beranak nek, dirumahku ada yang mau melahirkan” jawab nadi dengan
nafas terengah-engah
“oh begitu…
kebetulan nenek dulu juga seorang dukun beranak , dan sekarang sudah tidak
Karena keadaan nenek yang lumpuh jadi sulit untuk bepergian” ungkap nenek
tersebut.
“ALHAMDULILLAH,
kalo begitu nenek bias kan membantu aku ? aku takut terjadi apa apa dengan desi
dan anaknya.” Sahut nadi.
“nenek bias
saja membantu, tetapi denagn keadaan nenek
Taku terlahir ke dunia seperti halnya sebuah kertas bening yang bersih dan belum
tertulis apapun. Ragaku tergeletak tak berdaya dengan rengekkan tangis yang
membuat kedua orang tua ku gembira.
Aku
dibesarkan oleh kedua ibu bapakku dengan penuh kasih sayang, disusui ,
dimandikan , dimanja ,serta digendong, terus saja begitu hingga akhirnya aku
menginjak usia 1 tahun.
Hari minggu
sebelum matahari muncul terdengar suara ayam berkokok, udara yang dingin tidak
menghambat aktivitas keluarga Nadi. Diluar sana angin serta langit yang masih
remang-remang kelabu beserta kabut yang menyelimutinya dan tumbuhan tumbuhan
hijau yang segar ditambah embun-embun di atas dedaunan, justru menambah
semangat nadi untuk beraktivitas.
“BRAK
BRAK” Terdengar suara barang yang jatuh
didapur, Desi terbangun dan melihat apa yang berisik didapur, dilihatnya nadi
yang sedang mengemas barang untuk dibawanya ke kebun, sementara yuyun istrinya
membantu mengemas dan mempersiapkan makanan untuk nanti.
Kasihan nadi dan yuyun, mereka
bekerja keras untuk menafkahi keluarga beserta aku, sementara aku hanya
membebani mereka. Aku tidak mungkin harus terus menyusahkan nadin dan yuyun. Pikir yuyun dalam hatinya.
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar