Rabu, 23 Oktober 2013

Psikosis Sang Sastrawan Muda


Sinar matahari yang mulai terbenam meninggalkan cerahnya siang hari, awan berkabut muncul untuk menghiasi malam sunyi. Cahaya bulan bersinar terang. Sinarnya menyusupi ruang ruang rumah melalui dinding bilik yang menjadi penyelimut rumah.di depan rumah terlihat sebuah pelataran kebun yang ditanami berbagai buah dan sayuran, dan di pinggirnya sebuah hutan yang selalu memberikan sumber kehidupan sehari hari. Serta sebuah kolam dibelakang rumah yang dipenuhi ikan berwana merah dan berbagai macam mainan kapal.

1997,…. Tepatnya 18 april pukul 18.08 di kamar tidur…..
“aduh aduhhh……” teriak seorang ibu bernama desi yang hamil dan di tinggal sang suaminya segingga dia harus menumpang dirumah yuyun seorang sahabanya sejak dari dulu.

“sepertinya bayinya sudah mau keluar” terucap dari seorang lelaki bernama nadi suami dari yuyun.

“wahhh … bayinya sudah mau keluar,” teriak istri nadi yang cukup kaget. “cepat panggilkan dukun beranak”
Nadi segera pergi berusaha mencari dukun beranak , di tengah hujan dengan keadaan basah kuyup dan jalanan yang penuh lumpur serta gelap. Tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat Nadi untuk mencari dukun beranak, setelah beberapa menit berjalan ia menemukan sebuah gubuk lalu dilihatnya seorang nenek nenek yang tua yang duduk di atas kayu depan gubuk tersebut.
“hey anak muda ? kenapa berdiri disitu ? kemarilah disana dingin dengan cuaca  hujan seperti ini.” Ucap nenek tersebut.
Nadi mendekati si nenek dengan mata yang tertuju pada bagian rambutnya yang beruban dan berwarna putih semua. “ kira-kira berapa ya umurnya” pikirnya dalam hati sambil tersenyum.
“mau kemana kamu nak ?” tanya si nenek itu „ “apa nenek bis membantu ?”
“Aku lagi mencari dukun beranak nek, dirumahku ada yang mau melahirkan” jawab nadi dengan nafas terengah-engah
“oh begitu… kebetulan nenek dulu juga seorang dukun beranak , dan sekarang sudah tidak Karena keadaan nenek yang lumpuh jadi sulit untuk bepergian” ungkap nenek tersebut.
“ALHAMDULILLAH, kalo begitu nenek bias kan membantu aku ? aku takut terjadi apa apa dengan desi dan anaknya.” Sahut nadi.
“nenek bias saja membantu, tetapi denagn keadaan nenek
 Taku terlahir ke dunia seperti halnya  sebuah kertas bening yang bersih dan belum tertulis apapun. Ragaku tergeletak tak berdaya dengan rengekkan tangis yang membuat kedua orang tua ku gembira.
Aku dibesarkan oleh kedua ibu bapakku dengan penuh kasih sayang, disusui , dimandikan , dimanja ,serta digendong, terus saja begitu hingga akhirnya aku menginjak usia 1 tahun.

Hari minggu sebelum matahari muncul terdengar suara ayam berkokok, udara yang dingin tidak menghambat aktivitas keluarga Nadi. Diluar sana angin serta langit yang masih remang-remang kelabu beserta kabut yang menyelimutinya dan tumbuhan tumbuhan hijau yang segar ditambah embun-embun di atas dedaunan, justru menambah semangat nadi untuk beraktivitas.
“BRAK BRAK”  Terdengar suara barang yang jatuh didapur, Desi terbangun dan melihat apa yang berisik didapur, dilihatnya nadi yang sedang  mengemas barang untuk  dibawanya ke kebun, sementara yuyun istrinya membantu mengemas dan mempersiapkan makanan untuk nanti.

Kasihan nadi dan yuyun, mereka bekerja keras untuk menafkahi keluarga beserta aku, sementara aku hanya membebani mereka. Aku tidak mungkin harus terus menyusahkan nadin dan yuyun. Pikir yuyun dalam hatinya.




Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar